Selasa, 21 April 2026 WIB

BPJS Hentikan Kerjasama Dengan RS Sari Mutiara

Administrator Administrator
BPJS Hentikan Kerjasama Dengan RS Sari Mutiara
Foto: Rumah Sakit Umum Swasta Sari Mutiara Medan
17MERDEKA,Medan-Pihak Badan Pelaksanaan Jaminan Kesehatan (BPJS) Sumut, mengakui telah memutus kerjasama dengan Rumah Sakit Umum Swasta Sari Mutiara Medan.

Diputusnya kerjasama tersebut disebabkan banyaknya laporan masyarakat yang kecewa terhadap pelayanan pihak rumah sakit tersebut.

Hal ini diungkapkan perwakilan BPJS Sumut, Buara Ginting dihadapan tiga ratusan warga Kecamatan Medan Helvetia, ketika hadir pada reses-3 Anggota DPRD Kota Medan, Edward Hutabarat, Rabu (6/12) di Jalan Cempaka, Gaperta Ujung Kecamatan Medan Hevetia.

"Terhitung sejak November 2017, BPJS telah memutus kerjasama dengan rumah sakit umum Sari Mutiara Medan,ini berdasarkan hasil penilaian dan laporan yang kita dapatkan selama ini," terang Ginting.

Ginting menambahkan, ada sebanyak 5 rumah sakit di Kota Medan yang telah diputus kontraknya oleh pihak BPJS Kesehatan. Kesemuanya adalah rumah sakit swasta, termasuk juga rumah sakit, Martha Friska di Jalan Mutatuli, Medan.

Buara Ginting juga menghimbau kepada warga masyarakat yang mendapatkan pelayanan tidak baik dari pihak rumah sakit agar segera melaporkannya kepada pihak BPJS, sehingga ada informasi yang didapat terkait pelayanan rumah sakit yang tidak baik, khususnya pada pelayanan pasien yang terkover oleh BPJS Kesehatan.

Salah satu warga yang bernama Hotma Panjaitan, warga Kecamatan Medan Helvetia yang menjadi korban dugaan mal praktek RSU Sari Mutiara, juga mengakui pelayanan peserta atau pasien BPJS di rumah sakit umum Sari Mutiara Medan.

"Pengalaman saya mengenai buruknya pelayanan di RSU Sari Mutiara Medan, kejadian ini memang sudah terjadi tiga tahun lalu. Tapi ketika saya cerita tidak ada yang pernah menggubris. Mulanya anak saya bernama Parulian Marpaung didiagnosa sakit tipus di Klinik RS Linda daerah Skip. Berturut-turut saya sudah cek darah di sana dan hasilnya anak saya terkena tipus.Namun karena saya tidak mampu bayar sehari Rp200 ribu, saya bawalah anak saya ke RSU Sari Mutiara," katanya.

Sampai di RS itu dengan memakai Jamkesmas selama seminggu, Parulian kembali dicek darah dan hasilnya bukan tipus melainkan sakit usus buntu. Lantas pihak RS menyarankan agar dilakukan operasi terhadap Parulian.

"Karena saya orang bodoh ya saya mau (anak dioperasi). Operasi jam 6 sore, jam 7 malam anak saya sudah tidak bisa bicara. Saya tanya besoknya sama dokter, dikatakan tidak apa-apa, cuma karena kebanyakan cairan. Saya pun mengiyakan," ungkapnya.

Belum cukup sampai di situ, karena kebanyakan cairan di bagian kepala, Parulian pun disarankan untuk operasi lagi. Kesempatan itu Hotma mengaku meski memakai Jamkesmas dikenakan biaya operasi sebesar Rp6 juta. Itu pun dengan komitmen bersama pihak RS kalau anaknya sembuh ia mau bayar Rp3 juta. "Saya tidak punya uang, jadi cuma bisa bayar segitu (Rp3 juta).

Namun dalam jangka waktu tiga hari ke depan, ungkap dia paskaoperasi kondisi Parulian kian parah dan saat berada di ruang ICU Parulian sudah tidak bernyawa.

"Ya, saya tidak terimalah. Saya ngamuk kepada pihak RS karena sudah menjadikan anak saya praktek. Masak dari tipus anak saya dibilang terkena usut buntu, lantu dioperasi lagi karena bagian kepalanya banyak cairan. Saya sampaikan kenapa dokter tidak bertanggungjawab," katanya.

Karena ngotot tidak mau membayar biaya operasi, pihak RS memanggil Tuarman Purba selaku Direktur RS. "Dia (Tuarman Purba) mungkin mau mencari solusi.

Lantas dia bilang ke saya, tenang saya ibu saya bantu ibu Rp 1 juta dan ibu tinggal tambahi Rp 2 juta. Karena di sinikan ada ketentuan rumah sakit yang harus diikuti. Tapi saya tidak punya uang sebanyak itu, cuma ada Rp 200 ribu," ucapnya menirukan pernyataan Parlindungan waktu itu.

Meski pasrah namun ia tetap ngotot tidak mau membayar biaya operasi tersebut. Dengan perasaan gondok ia bilang, silahkan pihak RS mencincang bagian tubuh anaknya di depan matanya.

"Saya kembalikan sama rumah sakit mau diapakan anak saya. Asal apa yang mereka lakukan saya lihat langsung di depan mata kepala saya," katanya.

Mendengar cerita Hotma Panjaitan itu, Edward Hutabarat pun tertegun dan nyaris menitikkan air mata. Ia mengaku tak menyangka karena alasan uang pihak RS sampai 'menghilangkan' nyawa orang.
 
"Kalau saya sejak lama kenal sama Bu Hotma, saya akan balik-balikkan itu rumah sakit. Saya akan usulkan agar RS itu ditutup. Miris hati saya mendengar cerita ibu, sedih rasanya rumah sakit kita mempunyai prilaku kayak begitu," ujar politisi PDIP itu.

Ia berjanji akan mengusut kasus dugaan mal praktek ini mengingat dirinya berada di Komisi B."Saya pikir kita bisa usut tuntas lagi kasus kematian anak Ibu Hotma. Melalui rekan-rekan media nanti mungkin bisa membantu pengungkapan kasus ini ke publik," katanya.

Pihak RSU Sari Mutiara Medan dr Tuarman Purba yang coba dikofirmasi di kantornya Jalan Kapt Muslim Medan, Rabu (6/12) siang, staf disana berkata Tuarman sedang keluar.(17M.9)


Tag:
Berita Terkait
Wartawan 17merdeka.com adalah yang namanya tercantum di susunan Redaksi. Segala proses peliputan yang diterbitkan oleh media online 17merdeka.com harus menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers. Hubungi kami: redaksi.17merdeka@gmail.com
Komentar
Berita Terkini