Selasa, 27 Oktober 2026 WIB

Kapoldasu Fasilitasi Pengobatan Bocah Kelainan Anus

Administrator Administrator
Kapoldasu Fasilitasi Pengobatan Bocah Kelainan Anus
17merdeka.com
Kabid Dokkes Polda Sumut Kombes Pol dr Sahat Harianja melihat bocah pasien kelainan anus usai dipersiapkan RS Bhayangkara Medan, Selasa (15/1) sore

17MERDEKA, MEDAN - Setelah dua tahun terkendala perobatan akibat tidak ada biaya, kini Clauzia Aldamayanti balita usia 3 tahun yang memiliki kelainan anus kini dapat menjalani operasi. 


Dengan difasilitasi Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto, putri dari M Sofyan (39) dan Sri Wulandari (31) menjalani operasi pembuatan anus di Rumah Sakit Bhayangkara Poldasu tanpa mengeluarkan biaya apapun.


Ketika dijumpai di rumah sakit, M Sofyan menceritakan awalnya bersama sang istri tidak mengetahui kalau putrinya memiliki kelainan berupa anus yang sangat kecil. 


Sehingga, semakin bertambahnya usia, putri semata wayangnya tersebut tidak lagi mampu untuk buang air besar.


"Dari mulai lahir rupanya sudah ada kelainan, tetapi kami tahunya sewaku Clauzia berusia 9 bulan," ucap Sofyan, kemarin.


Setelah mengetahui putri satu-satunya itu memiliki anus yang tidak normal, Sofyan membawanya untuk berobat. 


"Saat itu dilakukan operasi pertama," sebut warga kompleks Anugerah Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan Deli Serdang.


Namun pengobatan terhadap Clauzia tidak sampai di situ. "Operasi pertama kami masih sanggup karena BPJS," sebut pria yang bekerja sehari-hari sebagai penarik betor.


Setelah operasi tersebut, balita itu tidak pernah dibawa berobat karena terbentur dengan perekonomian. 


"Kami tidak sanggup bayar BPJS lagi, jadi BPJS-nya terputus," katanya.


Seak itu Clauzia hanya terbaring di rumah saja. Tidak tahu mencari biaya dari mana, akhirnya, Sofyan membawa istri dan anaknya saat pertemuan para betor dengan Kapoldasu di Mapoldasu.


"Jadi saat ketemu dengan Pak Kapolda, saya langsung jumpai Pak Kapolda dan memperlihatkan kondisi anak saya. Di situ saya cerita tentang kondisi anak saya," sebutnya.


Melihat kondosi balita itu, orang nomor satu di Poldasu langsung memutuskan agar Clauzia harus cepat dioperasi. "Beberapa hari kemudian, personel polisi menjemput anak saya untuk dioperasi," terangnya.


Atas operasi yang dilakukan terhadap anaknya itu, Sofyan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto. 


"Kami mengucapkan terimakasih kepada Pak Kapolda, kami tidak bisa balas dengan apapun. Semoga Kapoldasu sehat dan sukses terus," ungkapnya.


Operasi terhadap anak penarik betor tersebut ditangani oleh sejumlah tim dokter ahli, mulai dari spesialis bedah anak, spesialis anak, spesialis patologi, hingga spesialis anestesi. Waktu operasi yang berlangsung hingga mencapai 4,5 jam.


Kabid Dokkes Polda Sumut Kombes Pol dr Sahat Harianja menyampaikan, pertemuan Sofyan dengan Kapolda terjadi ketika jenderal bintang dua tersebut melakukan pertemuan dengan para penarik betor di Mapolda Sumut pada 12 November 2018. 


Dalam pertemuan itu, lanjutnya, ada yang melaporkan kepada Kapolda anak Sofyan mempunyai kelainan dengan tidak memiliki lubang anus.


"Sehingga Kapolda lalu memerintahkan Karumkit Bhayangkara untuk menindaklanjuti laporan itu. Sehingga seminggu kemudian, Sofyan dan keluarga dijemput kerumahnya untuk diperiksa, hingga dilakukan operasi pembuatan anus," jelasnya. 


Sementara, Karumkit Bhayangkara Kombes Pol Nyaman Eddy menambahkan, jika pihaknya sudah menyanggupi operasi terhadap Clauzia. Karenanya, sebut dia, keluarga Sofyan sama sekali tidak ada dikenakan biaya apapun atas operasi yang dilakukan ini.


"Keluarga tidak ada keluar biaya. Mulai dari penjemputan, pendampingan, sampai operasi selanjutnya. Kami memang sudah menyanggupinya, namun kami juga berkordinasi dengan BPJS Kesehatan," terangnya.


Selaku tim medis, dr Erjan Fikri SpB SpBA mengatakan Clauzia lahir dengan kelainan berupa anus tidak pada tempatnya (fistula). Selain itu ukurannya sangat kecil, bahkan ia menggambarkan lebih kecil dari pada batang korek api.


"Pada saat bayi, kelainannya tidak diketahui, karena kotoran bayi yang memang encer. Tapi dengan berjalannya waktu, dimana kotoran anak akan semakin keras sehingga semakin sulit keluar," paparnya.


Erjan mengaku, jika Clauzia pada saat bayi bisa langsung di operasi, maka tindakan medis yang dilakukan, akan dapat lebih cepat. Namun karena kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, maka tindakan operasi yang harus dilakukan hingga 3 kali.


"Pada operasi kali ini kami membuat pembuangan sementara (colostomy) menunggu ususnya yang sudah melar kembali. Sedangkan operasi pembuatan anusnya (operasi ketiga) akan kembali dilakukan 6 bulan kemudian. Mudah-mudahan operasi selanjutnya itu, sudah bisa normal sebagaimana harusnya," tandasnya. (17M.02) 

Wartawan 17merdeka.com adalah yang namanya tercantum di susunan Redaksi. Segala proses peliputan yang diterbitkan oleh media online 17merdeka.com harus menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers. Hubungi kami: redaksi.17merdeka@gmail.com
Komentar
Berita Terkini