17MERDEKA, LABUHANBATU - Sunarti (42) warga Kampung Tempel Dusun Sidodadi Desa Pematang Seleng Kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu yang kesehariannya sebagai Pegawai Negeri Sipil di Salah satu Puskesmas di wilayah Kecamatan Bilah Hulu ini, jari tengahnya nyaris putus disayat pisau dapur oleh tetangganya Wito (40) warga sama.
Kejadian tersebut dialami Sunarti saat berada di kediamannya ketika sedang berkumpul dengan keluarga (suami dan anak-anaknya). Di kala itu, Wito datang ke kediaman Sunarti dan menggedor pintu rumah Sunarti. Gedoran pintu yang dilakukan Wito cukup keras, sehingga mengagetkan Sunarti, suami dan anak-anaknya.
"Dia datang ke rumah malam, dengan menggedor pintu kencang-kencang," Ucap Sunarti yang dikonfirmasi 17merdeka.com di kediaman rekan suaminya Jalan Lintas Sumatera Simpang Gapuk.
Dilanjut Sunarti, sambil menggedor pintu Wito membawa sebilah pisau dapur stainless di tangannya sambil menancap-nancapkan ke dinding rumah. Dengan nada suara tinggi, Wito membentak-bentak Sunarti dan Suaminya Syawal Siregar.
"Dia (Wito) membawa pisau ditangannya. Pisau itu ditancap-tancapkannya sambil marah-marah. Kemudian menyerang kami dengan menggunakan pisau itu. Ya saya coba menghindari, tapi jari saya kena," kata Sunarti kembali.
Setelah kejadian tersebut sekira pukul 22.45 Wib, Sunarti dbawa suami ke Polsek Bilah Hulu untuk melaporkan kejadian yang dialami Sunarti dan tertuang dalam surat tanda penerimaan pelaporan Nomor LP/221/XI/SU/RES LBH/SEK B. HULU, dan melakukan visum di Rumah sakit Aeknabara PT Sri Pamela Medika Nusantara dengan nomor RSANS/KW/10/XI/2017. "Setelah kejadian itu, saya dan suami melapor ke Polisi. Dari kantor Polisi kami diberikan surat dari Polsek untuk visum ke rumah sakit."ucap Sunarti.
Sunarti (korban) merasa aneh, laporan ke Polisi mengenai kejadian yang menimpanya tersebut belum kunjung juga ada perkembangan. Pada hal sudah 2 minggu kasus yang dilaporkannya ke Polsek Bilah Hulu belum ada kabar.
"Saya heran juga, tidak ada kabar dari Polsek mengenai laporan saya. Sudah 2 minggu berjalan laporan saya itu. Saya khawatir sekali pak, saya takut jika kejadian lagi bisa merenggut nyawa saya atau suami. Apalagi sama anak-anak saya yang setiap hari keluar sekolah dan ada yang kerja. Harapan saya, Bapak Kapolres dapat melindungi kami sekeluarga dan menanggapi laoran saya," harap Sunarti.
DIceritakan Sunarti, sebelum kejadian tersebut, awalnya dari peristiwa kecelakaan anaknya Kiki (21) yang meminjam sepeda motor merek Yamaha Vixion dari temannya Nanda warga Desa Pematang Seleng. Peristiwa kecelakaan Kiki terjadi sekira beberapa pekan yang lalu di Jalan Lintas Lintas Sumatera-Kotapinang, tepatnya dekat PLN Aeknabara.
Karena peristiwa kecelakaan tersebut, Kiki harus dirawat di rumah sakit dan sepeda motor Yamaha Vixion milik Nanda di tahan oleh Satlantas Polsek Bilah Hulu untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut mengenai kecelakaan tersebut. "Pertama dari kecelakaan anak saya si Kiki. Kiki meminjam sepeda motor si Nanda. sewaktu kecelakaan itu, Kiki dirawat di rumah sakit, sepeda motor Nanda di tahan sama pihak Satlantas."ucap Sunarti.
Wito yang mengaku keluarga Nanda meminta Sunarti untuk mengurus sepeda motor tersebut di Satlantas Polsek Bilah Hulu agar dapat cepat dikeluarkan. Namun, Sunarti masih mengurus anaknya (Kiki) yang masih terbaring di rawat di rumah sakit. Pihak yang mengaku keluarga Nanda masih bersikeras untuk memaksa Sunarti harus cepat mengurus sepeda motor Yamaha Vixion yang ditahan Satlantas tersebut cepat dikeluarkan.
"Dia mengaku dari pihak keluarga Nanda yang sepeda motornya dipinjam anak saya. Katanya, saya harus cepat mengeluarkan sepeda motor tersebut. Tapi, saya masih mengurus anak saya yang lagi dirawat karena kecelakaan itu. Lagi pula, masih dalam proses pemeriksaan pihak Satlantas. Makanya saya tunggu, sambil mengurus anak saya yang lagi dirawat di rumah sakit. Karena dia tidak sabar, saya terus di teror-teror melalui sms. Sampai akhirnya ya kejadian seperti ini. "terang Sunarti sambil menunjukan isi sms di selularnya ke 17merdeka.com, Minggu, (03/12/2017).
Dari pantuan 17merdeka.com di lapangan hinga saat ini, Juru Periksa Polsek Bilah Hulu menghubungi Sunarti melalui via selular. Sunarti diminta untuk menghadirkan saksi-saksi untuk diperiksa.
"Pak Nababan Juper Polsek Bilah Hulu telepon ke saya untuk menghadirkan saksi-saksi kemarin sore (03/12/2017). Tapi, saksi-saksi saya lagi tidak bisa. Saya katakan balik sama Pak Nababan itu untuk hari ini dihadirkan. Sudah 2 minggu saya lapor, kenapa baru ini diperiksa saksi-saksi saya ya Pak ?."Tanya Sunarti.
Dijelaskan Sunarti, usai pemeriksaan saksi-saksi di Juper, Sunarti terkejut dengan ucapan Juper Polsek Bilah Hulu bermarga Nababan yang mengatakan Wito belum bisa menjadi tersangka atas kejadian yang menimpa Sunarti.
"Terkejut saya yang dikatakan Juper Nababan itu, masa Wito belum dikatakan tersangka. Jelas-jelas tangan saya terluka dan hampir mau dibunuhnya. Sedangkan saksi-saksi pun sudah bicara dan diperiksa sama dia (juper). Seharusnya petugas Kepolisian saat saya melaporkan kejadian yang saya alami, langsung mereka (petugas Polisi) datang untuk olah tempat kejadian perkara. Jangan hanya menerima laporan saja," jelas Sunarti saat ditemui di Polsek Bilah Hulu, Senin (4/12/2017).
Di sisi lain, Syawal warga Desa Pematang Seleng membenarkan kejadian menimpa Sunarti tersebut. Bahkan, Syawal sempat menarik badan tersangka untuk keluar dari rumah Sunarti.
"Kejadian tesebut benar Pak. Saya lihat tangan Bu Sunarti sudah mengeluarkan darah. dan darahnya Bu Sunarti berceceran di lantai. Tapi saya tidak melihat sewaktu Wito menyerang Bu Sunarti. Yang jelas kejadian itu Wito memang memegang pisau itu. Wito datang berdua dengan kawannya yang bernama Udin mendatangi rumah Bu Suanrti sekra jam 23.00 Wib," jelas Syawal kepada 17merdeka.com, Senini (04/12/2017) sekira jam 17.30 Wib.
Kapolres Labuhanbatu AKBP Frido Situmorang SH SiK, saat dikonfirmasi awak Media via selular mengatakan pihak Polsek Bilah Hulu sedang melakukan proses penyidikan. Ironisnya lagi, Frido mengatakan hasil visum belum ada.
"Lagi dalam penyidikan, hasil visum belum ada," ucap Frido. (17M.10)