17MERDEKA, MEDAN - Seorang sopir angkutan penumpang Simpati, Harry Kapri Lubis warga Desa Palopat Pijorkoling, Kecamatan Padang Sidempuan Tenggara, Kota Padang Sidempuan mengaku diborgol dan dianiaya onum Brimob, Aiptu RH. Kasus itu telah dilaporkan korban ke Polres Padang Sidempuan.
"Saat itu saya berangkat dari Siantar sekitar jam 12 malam dan di Balige karena saya mengantuk, saya gantian dengan sopir serap namanya Rahim. Saya pindah ke bangku belakang untuk istirahat," kata korban kepada wartawan di Mapolsek Medan Kota, Senin (9/7).
Dijelaskannya, saat itu angkutan penumpang yang dikemudikannya membawa sekitar enam orang. "Saya tidur dengan posisi kedua tangan di leher. Namun, perempuan yang ada di sebelah kanan saya langsung menjerit ketika lutut saya bersentuhan dengan lututnya.
Padahal, saya tidak sengaja karena di dalam mobil kan bergoyang jalannya berliku. Karena perempuan itu menjerit, saya terkejut," ujarnya.
Setelah menjerit, sambungnya, perempuan yang tidak diketahui namanya itu langsung menghubungi abangnya yang kebetulan seorang Brimob bertugas di Sipirok.
"Karena perempuan itu menelpon Brimob, saya antisipasi dan saat di rumah makan Aekboti, saya tidak menggunakan mobil yang saya bawa. Jadi saya suruh kawan saya Rahim untuk membawa mobil Simpati mengantarkan sewa. Saya menaiki mobil lain untuk ke Sidempuan," sebutnya.
Namun, lanjutnya, saat dalam perjalanan menuju Sidempuan, dia ditelpon mandor Simpati untuk berdamai dengan keluarga oknum Brimob karena sudah melakukan tindakan asusila.
Begitu bertemu di loket Simpati Sitamiang, Kelurahan Sitamiang Lama, Kecamatan Padang sidempuan Selatan, Kota Padang Sidempuan korban langsung dianiaya oknum Brimob RH pada Rabu (4/7) sekitar pukul 11.30 WIB.
"Saya ditendang di bagian dada sebanyak tiga kali. Oknum Brimob itu menendang saya dengan sepatu PDL dan menggunakan seragam dinas Brimob. Saya lihat dia pangkat Aiptu," ujarnya.
Ketika terjatuh karena ditendang, Harry mengaku kedua tangannya langsung diborgol oknum Brimob itu.
"Saya ditampar dan langsung diborgol. Di situ saya tidak bisa melawan karena sudah diborgol," kesalnya.
Setelah itu, borgol dilepas, tapi kunci mobil Simpati yang dikemudikannya diambil oknum Brimob tersebut.
"Saat saya hubungi, oknum Brimob itu minta kerbau sebagai tanda perdamaian, saya bilang tidak ada.
Langsung Brimob itu bilang, uang tiga juta untuk beli kambing. Karena saya juga tidak sanggup, akhirnya oknum Brimob itu bilang, ya sudah beli ayam, telur dan nasi serta duit sejuta untuk perdamaian," bebernya.
Atas perlakuan itu, korban membuat laporan ke Polres Padang Sidempuan dengan LP nomor: LP/236/VII/2018/SU/PSP tanggal 5 Juli 2018.
"Saya berharap oknum Brimob itu minta maaf ke saya dan bukan saya yang minta maaf ke dia," pintanya.
Sementara, Aiptu RH ketika dikonfirmasi melalui telepon seluler, tidak membantah telah menendang Harry.
"Cemana tidak geram bang, saya mendapat telpon dari saudara perempuan saya kalau dirinya dilecehkan saat berada di dalam mobil Simpati," katanya.
RH mengaku mendatangi korban setelah mendapat telpon dari saudara perempuannya yang mengaku mendapat pelecehan saat menjadi penumpang mobil Simpati.
"Saya jumpai si Harry di Sipirok. Saya jumpai di loket Simpati dan langsung menendang Harry begitu saya tau orangnya," akunya.
Ditanya tentang pemborgolan terhadap Harry, RH menyebut agar tidak kabur dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Saya memborgol agar yang bersangkutan tidak kabur. Saya juga pengen tau alasannya kenapa dia bisa memegang bahu, paha, sampai ke selangkangan saudara perempuan saya yang lagi tidur," kecamnya.
RH menyebut siap dilaporkan oleh korban. "Tapi saya berharap ada perdamaian dari si Harry agar masalah ini tidak mencuat dan tidak terlalu lama," imbuhnya. (17M.02)