Jumat, 05 Juni 2026 WIB

Polisi dan FPI Saling Tuduh Soal Penembakan, Mengapa Tak Buka Rekaman CCTV?

Administrator Administrator
Polisi dan FPI Saling Tuduh Soal Penembakan, Mengapa Tak Buka Rekaman CCTV?
Int

17MERDEKA, JAKARTA - Polisi dan FPI memberi pernyataan berbeda terkait insiden baku tembak di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 Karawang, pada Senin 7 Desember 2020. Polisi mengaku ada tindakan ofensif dari FPI yang membuat mereka melepas tembakan. Sementara di pihak berbeda, FPI merasa tak pernah melakukan hal tersebut.

Perbedaan klaim itu kemudian membuat publik bertanya-tanya mengenai kebenarannya. Jadi, tanya mereka di media sosial, yang sesungguhnya patut disalahkan FPI atau justru polisi? Itulah mengapa, mereka menuntut pihak terkait membuka rekaman CCTV.

Namun sayangnya, beredar informasi, saat baku tembak terjadi, CCTV milik Jasa Marga yang berada di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek sedang dalam kondisi mati. Berkenaan dengan itu, Jasa Marga menegaskan, mereka tidak mengetahui adanya informasi tersebut.

"Terkait dengan pertanyaan media tentang adanya kejadian khusus di Jalan Tol Jakarta-Cikampek pada dini hari tadi, kami sampaikan bahwa kami tidak memiliki informasi tentang kejadian tersebut," ujar Corporate Communication and Community Development Group Head PT Jasa Marga, Dwimawan Heru, dikutip dari Kumparan.

Heru juga tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai matinya CCTV di lokasi penembakan. Menurutnya, hal itu merupakan kewenangan kepolisian.

"Dan untuk mendapatkan kejelasan atas pertanyaan tersebut, kami persilakan untuk menghubungi pihak kepolisian," terangnya.

Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran mengatakan, mulanya dia dan rekan-rekan kepolisian mengendus adanya kemungkinan pengerahan massa terkait pemeriksaan Habib Rizieq di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat. Tanpa ragu, pihaknya membuntuti kelompok tersebut.

Sialnya, kata Fadil, saat memasuki KM 50, kelompok itu mulai bertindak ofensif dengan memepet dan menyerang polisi. Itulah mengapa, pihaknya melakukan perlawanan hingga melepas tembakan. Imbasnya, enam orang yang diduga pengikut Imam Besar FPI tersebut meninggal, sementara kendaraan polisi mengalami kerusakaan.

"Ketika anggota PMJ (Polda Metro Jaya) mengikuti kendaraan yang diduga pengikut Muhammad Rizieq Shihab, kendaraan petugas dipepet kemudian diserang dengan menggunakan senpi dan sajam," ucap Fadil.

"Anggota yang terancam keselamatan jiwanya karena diserang kemudian melakukan tindakan tegas terukur. Sehingga, terhadap kelompok diduga pengikut MRS yang berjumlah 10 orang, meninggal dunia sebanyak 6 orang. Kerugian yang dialami petugas adalah kendaraan rusak karena dipepet serta terkena tembakan," sambungnya.

FPI beri pengakuan berbeda dengan polisi

Menariknya, FPI memberi pengakuan berbeda terkait kasus penembakan tersebut. Dikutip dari siaran pers DPP FPI yang masuk ke meja redaksi HOPS, mereka mengaku, rombongan pendukung HRS diadang dan diserang orang tak dikenal (OTK). Bahkan, sempat ada penculikan terhadap enam anggota.

"Bahwa benar ada peristiwa pengadangan, penembakan terhadap rombongan IB HRS (Imam Besar Habib Rizieq) dan keluarga serta penculikan terhadap 6 orang laskar pengawal IB. Peristiwa terjadi di dekat pintu Tol Karawang Timur."

"Dalam perjalanan menuju lokasi pengajian Subuh keluarga tersebut, rombongan diadang oleh preman OTK (yang kami duga kuat bagian dari operasi penguntitan dan untuk mencelakakan IB)," kata FPI. (hops) 

Wartawan 17merdeka.com adalah yang namanya tercantum di susunan Redaksi. Segala proses peliputan yang diterbitkan oleh media online 17merdeka.com harus menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers. Hubungi kami: redaksi.17merdeka@gmail.com
Komentar
Berita Terkini