Selasa, 28 Juli 2026 WIB

Tim Gabungan Kuburkan Bangkai Babi dari Sungai Bedera

Administrator Administrator
Tim Gabungan Kuburkan Bangkai Babi dari Sungai Bedera
17merdeka.com

17MERDEKA, MEDAN - Penanganan bangkai babi yang terinfeksi hog cholera mulai dilakukan tim gabungan dengan menguburkan secara massal di Danau Siombak Jalan Nippon, Kel Paya Pasir Kec Medan Marelan, Medan, Senin (11/11/2019). Sedangkan angka babi yang terjangkiti dan mati akibat kolera babi ini terus bertambah. 

"Sesuai laporan terjadi di 11 kabupaten/kota di Sumatera Utara dengan jumlah kematian sampai hari ini mencapai 5.800," ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut, M Azhar Harahap.

 

Namun, hal ini terkendala dengan peralatan yang minim serta lokasi yang berada dikawasan Danau Siombak yang dipenuhi hutan mangrove. Tim Unit Reaksi Cepat ini terdiri dari berbagai instansi terkait, fokus pencegahan dan penanganan peredaran virus hog cholera babi. 

"Yang sudah berhasil dievakuasi 106 bangkai babi dari Danau Siombak. Dilakukan penguburan massal terhadap bangkai babi tersebut. Sehingga diharapkan tidak menganggu pencemaran lingkungan terhadap masyarakat disekitar ini," akunya.

Turut serta Balai Veteriner Medan, Dirjen Peternakan, Dinas Lingkungan Hidup Medan dan Sumut, BPBD Medan dan Sumut, dan lainnya, tim melakukan pemantauan dan pengumpulan bangkai babi di Danau Siombak, Sungai Bedera dan sekitarnya. 

Tim sendiri menggunakan perahu karet untuk menyebrang ke lokasi. Hal teknis, tim juga membutuhkan eskavator amfibi untuk menuju ke lokasi dan mengali lubang. 

"Bangkai sudah terkumpul tinggal menunggu eskavator amfibi untuk bisa menyeberang. Karena disana akan di gali lubang yang besar karena (jumlahnya) banyak, harus lubang besar," jelasnya.

Azhar menyebutkan, jika tim URC masih melakukan upaya penanganan kasus ini. Pengamatan, pencarian hingga penanganan bangkai babi akan dilakukan dengan fokus di Sungai Bedera dan Danau Siombak. 

"Langkah selanjutnya, BPBD dan Lingkungan Hidup, masih lakukan penanganan dan pengamatan serta pencarian terhadap bangkai babi yang masih ada dialiran sungai dan Danau Siombak ini," jelasnya.

Sedangkan Kepala Balai Veteriner Medan, Drh H Agustia, MP mengatakan, langkah penanganan yang dilakukan sudah tepat. Upaya menguburkan bangkai babi hal pencegahan agar virus hog cholera tak menjangkiti babi lainnya. 

"Apa yang kita lakukan hari ini, adalah langkah yang tepat. Sehingga tidak mencemari lingkungan bagi warga sekitar dan tidak menularkan penyakit pada ternak lain," ucapnya.

Soal virus African Swine Fever (ASF), Agustia menegaskan, kasus tersebut tak ditemukan di Indonesia. Namun, penanganan babi yang terinfeksi babi kolera ini semestinya dikubur. 

"Ini salah satu apa yang kita lakukan. Bahwasanya, untuk pengamanan lingkungan ternak tidak boleh dibuang ke sungai, tidak boleh dibuang ke hutan. Meski pun kita belum ada ASF. Kita tidak berlaku untuk mengatakan skalanya, kita dengan siaga satu," pungkasnya. (17M.05) 

Wartawan 17merdeka.com adalah yang namanya tercantum di susunan Redaksi. Segala proses peliputan yang diterbitkan oleh media online 17merdeka.com harus menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers. Hubungi kami: redaksi.17merdeka@gmail.com
Komentar
Berita Terkini