Selasa, 26 Mei 2026 WIB

Diduga Pembiaran Menejer, Puluhan Hektare Lahan PTPN2 Kebun Kwala Madu Digarap

Administrator Administrator
Diduga Pembiaran Menejer, Puluhan Hektare Lahan PTPN2 Kebun Kwala Madu Digarap
17merdeka.com
Inilah lahan PTPN2 yang telah digarap, berdiri bangunan ormas dan kedai kelontong

17MERDEKA, MEDAN - Kebijakan Menejer PTPN2 Kwala Madu/Kwala Bingai, Edi Marlon patut dipertanyakan. Sebab, dia terkesan membiarkan aset PTPN2 'dijarah' untuk kepentingan bisnis pribadi.

Puluhan hektare lahan Kebun Kwala Madu digarap orang tidak bertanggungjawab, namun tidak mendapatkan tindakan atau teguran dari menejer kebun, meski itu merupakan tanggungjawabnya.

Informasi dihimpun, penggarapan lahan PTPN2 seluas 51 hektar (ha) itu berada di Blok 10 seluas 7 ha, Blok 26 luas 8 ha, Blok 30 luas 10 ha, hingga total luas 25 ha. Sedangkan DP 4 kavel i Rayon B Kebun Kwala Madu (simpang Lalat), Blok 37 seluas 6 ha, Blok 30 luas 10 ha, Blok 29 luas 10 ha hingga total 26 ha.

"Awalnya lahan tersebut ditanami tebu oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Langkat. Tapi, karena ada perusahaan dari Lampung PT Mega Tama yang mengontrak lahan tersebut buat tanam tebu, maka APTRI dipindahkan lahannya ke Kebun Kwala Bingai oleh manejer," sebut Putra (48), warga Stabat, Langkat kepada wartawan di Medan, Rabu (11/3).

Namun, anehnya, sebut Putra, bukannya tebu yang tumbuh, melainkan jagung yang ditanam oleh penggarap dan sudah berlangsung satu tahun lebih. Celakanya, tidak ada tindakan dari manejer kebun sehingga menimbulkan kecurigaan.

"Lahan PTPN2 itu sudah seperti milik pribadi penggarap, padahal kepunyaan negara. Tetapi, mengapa menejer Kebun Kwala Madu tidak bertindak, ada apa ini?" ketus Putra.

Dalam kaitan ini, Menejer PTPN2 Kebun Kwala Madu/Kwala Bingai, diduga telah melakukan pembiaran terhadap penggarapan lahan tersebut dan penyalahgunaan wewenang.

"Usah kan melarang, datang mengingatkan, mengimbau atau memperingati, apalagi mengusir penggarap, tidak dilakukan menejer," kesal Putra.

Akibatnya, sambung Putra, praktik pembiaran itu telah membuat ormas membangun kantor di lahan Hak Guna Usaha (HGU) tersebut, persis di Simpang Bengkel tanpa ada tindakan atau teguran.

"Bangunan ormas itu disambung mereka (penggarap) dengan bangunan kedai klontong secara permanen, dan ini juga dibiarkan oleh menejer," katanya.

Menejer PTPN2 Kebun Kwala Madu/Kwala Bingai, Edi Marlon ketika dikonfirmasi melalui telepon seluler, mengaku sedang sibuk. 

"Saya masih rapat," tandasnya, Selasa (10/3).

Namun, ketika kembali dikonfirmasi melalui telepon seluler pada Rabu (11/3) tidak menjawab. Edi Marlon memblokir nomor wartawan yang konfirmasi kepadanya. Pesan WhatsApp (WA) yang dikirim kepada tidak masuk, padahal sehari sebelumnya dijawab. (17M.02) 

Wartawan 17merdeka.com adalah yang namanya tercantum di susunan Redaksi. Segala proses peliputan yang diterbitkan oleh media online 17merdeka.com harus menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers. Hubungi kami: redaksi.17merdeka@gmail.com
Komentar
Berita Terkini